SEMOGA BLOG INI DAPAT MEMEBRIKAN SEDIKIT INFORMASI YANG BERMANFAAAT
DALAM BIDANG KESEHATAN
Sabtu, 02 Juni 2012
PENYULUHAN BAHAYA NARKOBA
TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA
DI SUSUN
OLEH :
NAMA : BAGAS RUDITO
NIM : 11.02.06.07
PRODI : S1 KEPEWATAN
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
AN-NUR
PURWODADI – GROBOGAN
TAHUN
AKADEMI 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Perilaku menyimpang tumbuh di kalangan masyarakat akibat kurang seimbangnya
masalah ekonomi, terutama terhadap para remaja Indonesia yang sering
menggunakan minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Mungkin mereka
kurang perhatian dari orang tua mereka atau mungkin juga karena ajakan para
pemakai atau teman-temannya.
Penyalahgunaan narkoba terhadap para pelajar SMA dan SMP berawal dari
penawaran dari pengedar narkoba. Mula-mula mereka diberi beberapa kali dan
setelah mereka merasa ketergantungan terhadap narkoba itu, maka pengedar mulai
menjualnya. Setelah mereka saling membeli narkoba, mereka disuruh pengedar
untuk mengajak teman-temannya yang lain untuk mencoba obat-obatan terlarang
tersebut.
Narkoba pertama kali dibuat oleh orang Inggris dan pertama kali disebarkan
ke daerah daratan Asia mulai dari China, Hongkong, Jepang sampai ke Indonesia.
Narkoba yang paling banyak dikirim ke daerah Asia adalah heroin dan morfin. Di
Indonesia juga sudah mulai ada yang memproduksi narkoba jenis ganja, pil
lexotan dan pil Extaci.
Narkoba biasanya dikonsumsi oleh anak-anak orang kaya, yang kurang
perhatian dari orang tuanya. Biasanya mereka mengkonsumsi jenis pil lexotan dan
Extaci karena proses pembelian dan penggunaannya lebih mudah dan praktis. Pada
mulanya mereka minum-inuman beralkohol di diskotik atau bar, tetapi lama
kelamaan mereka mulai memakai narkoba.
Makalah yang berjudul bahaya narkoba bagi remaja ini kami tujukan kepada
remaja, mahasiswa, pelajar atau pun halayak ramai yang yang membaca makalah ini
agar bisa mengerti tentang bagaimana bahaya narkoba yang biasa membuat kita
lalai dalam hal apapun. Dengan harapan semoga makalah yang sedemikian singkat
ini bisa membantu dan menambah wawasan anda tentang pengertian dan bahaya
narkoba itu sendiri.
B.Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang
masalah, terdapat beberapa macam masalah, maka, untuk mempermudah pembahasan
dalam makalah ini, penyusun membaginya dalam beberapa pertanyaan sebagai
berikut:
1.Pertanyaan yang diberikan kepada pemakai antara lain:
a.Sejak kapan
anda mulai mengkonsumsi narkoba?
b.Kenapa anda
bisa terjerumus ke dalam dunia itu?
c.Jenis
narkoba apa yang sering anda konsumsi?
d.Apabila anda
sedang memakainya, sendirian atau beramai?
e.Reaksi apa
yang anda rasakan apabila memakainya?
f.Faktor apa
yang mendorong anda untuk berhenti mengkonsumsi arkoba?
2.Pertanyaan yang diberikan kepada polisi antara lain:
a. Sanksi apa yang diberikan kepada pengguna,
pengedar dan pembuat narkoba?
b.Pasal berapa
yang menerangkan tentang sanksi kepada pengguna, pengedar dan pembuat narkoba?
c.Pernahkah
Polsek Rajagaluh menangkap pengedar atau pengguna narkoba?
d.Apabila anda
merazia narkoba contohnya ganja dikemanakan?
C.Tujuan Penulisan
penyusun menulis makalah ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang,
akibat dan hukuman bagi para pemakai, pengedar, dan pembuat narkoba khususnya
di lingkungan STIKES AN-NUR Purwaodadi, supaya pijak keamanan kampus lebih
tegas dalam pemeriksaan terhadap para Mahasiswa dan Mahasiswi untuk tidak
menggunakan atau mengedarkan barang haram tersebut.
D.Manfaat Penulisan
Manfaat dalam penulisan makalah ini di antaranya pembaca dapat mengetahui
kandungan-kandungan berbahaya narkoba, pembaca mengetahui akan resiko-resiko
yang akan terjadi apabila mengkonsumsi narkoba.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Kajian Pustaka
Pengertian NARKOBA
menurut WHO (1982) Semua zat cair, padat, dan gas yang dimasukkan kedalam tubuh
yang bisa merubah fungsi dan struktur tubuh secara fisik maupun psikis tidak
termasuk makanan, air, dan oksigen dimana dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi tubuh normal. Disini akan kami menjelaskan tentang jenis-jenis narkoba,
yaitu diantaranya adalah
1.Narkotika adalah zat/obat yang berasal dari tanaman
atau sintesis maupun semi sintesis yang dapat menurunkan kesadaran, hilang
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
2.Psikotropika adalah zat/obat alamiah atau sintesis
bukan narkoba. Yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan
perilaku.
3. Zat adiktif
adalah bahan lain yang bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaanya dapat menimbulkan ketergantungan
baik psikologis atau fisik. Misal: alkohol, rokok, dan cofein.
Orang-orang mengkonsumsi narkoba itu bertujuan untuk menenangkan diri dari
masalah yang dihadapi olehnya. Misalnya anak yang selalu dimarahi oleh orang
tuanya dan kurang perhatian (kasih sayang) dari kedua orang tuanya pasti merasa
kesal dan marah maka, untuk menghilangkan rasa kesal dan marahnya mereka
minum-minuman keras bahkan ada yang langsung memakai narkoba. Apabila ditambah
dengan pergaulan yang bebas, yaitu pergaulan yang tanpa aturan, sekehendak
sendiri dan tidak mau diatur sangat dominan dalam proses penyalahgunaan narkoba
ini.
B.Pembahasan
1.Jenis-Jenis Narkoba Yang Biasa Dikonsumsi
Para pengedar dan pemakai narkoba di Indonesia cenderung biasa menggunakan
ganja dan pil lexotan. Berhubung harganya lebih murah dari narkoba lain,
narkoba jenis ini mempunyai reaksi dan proses penggunaannya lebih cepat dan
lebih praktis. Di luar negeri biasanya narkoba yang dikonsumsi jenis heroin,
morfin, kokain dan doping, kenapa di Indonesia yang biasa digunakan hanya ganja
dan lexotan, karena ganja dan lexotan mudah diproduksi. Sedangkan narkoba jenis
heroin, kokain, morfin dan sebagainya harus impor dan banyak sekali resikonya.
2.Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Narkoba
Narkoba bisa memabukkan karena seluruh saraf-saraf dalam tubuh tidak
berfungsi layaknya orang normal sehingga orang yang mengkonsumsi narkoba
seperti orang gila. Apabila terlalu sering menggunakan narkoba maka kita akan
ketagihan karena mengakibatkan ketergantungan terhadap obat-obatan itu.
Cara-cara apapun dilakukan oleh pemakai narkoba supaya bisa membeli narkoba
dengan cara merampok mencuri dan sebagainya.
3.Sanksi Yang Diberikan Kepada Pemakai Dan Pengedar Narkoba
Narkoba adalah obat-obatan yang biasa digunakan di kedokteran, tetapi
apabila obat-obatan tersebut disalahgunakan maka perbuatan itu termasuk
melanggar hukum sehingga harus diberi sanksi. Adapun sanksi-sanksi yang harus
diberikan sebagai berikut :
a.Untuk pengedar sanksinya dipenjara selama 10 tahun dan
didenda sebanyak 500 juta rupiah. Tetapi apabila pengedar itu berstatus sebagai
bandar atau bosnya maka dia dipenjara selama 20 tahun sampai dengan seumur
hidup bahkan dihukum mati dan didenda 1 milyar rupiah.
b.Untuk penyimpang atau pembuat narkoba sanksinya
dipenjara selama 7 tahun dan didenda sebanyak 10 juta rupiah.
Sanksi – sanksi di atas terdapat di dalam undang-undang KUHP tentang
narkoba yaitu:
a.UU No. 22 tahun 1997 pasal 79 ayat 1 bagi pengedar kelas
teri (narkotika)
b.UU No. 5 tahun 1997 pasal 79 ayat 1 bagi pengedar
kelas kakap (psikotropika)
4.Upaya Pencegahan
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba dikalangan pelajar sudah seyogyanya
menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang
tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman
narkoba terhadap anak-anak kita.
Apapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah
melakukan kerja sama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan
tentang bahahya narkoba, atau mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin.
Kemudian penyampaian dari orang tua itu sendiri dengan memberikan kasih sayang
pada putra-putrinya, agar mereka merasa tentram. Sementara pihak sekolah harus
melakukan pengawasan ketat terhadap garak-gerik anak didiknya, karena biasanya
penyebaran transaksi narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah. Yang
tak kalah penting adalah pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan
pada siswa. Karena salah satu sebab terjerumusnya anak-anak ke dalam lingkaran
setan ini adalah kurangnya pendidikan moral dan pendidikan keagamaan yang
mereka serap, sehingga perbuatan tercela ini pun,akhirnya mereka jalani.
Oleh sebab itu, mulai saat ini, kita selaku pendidik, pelajar, dan sebagai
orang tua, harus sigap dan waspada akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat
menjerat anak kita sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut diatas, mari kita
jaga dan awasi anak didik kita dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan
kita untuk meluluskan genarasi yang cerdas dan tangguh dimasa yang akan datang dapat
terealisasikan dengan baik
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Akhirnya makalah yang berjudul dampak narkoba bagi remaja saat ini telah
selesai dan semoga makalah yang sedemikian singkat ini bisa bermanfaat bagi
kita semua baik itu bagi kalangan mahasiswa, pelajar umum sehingga bisa
mengerti tentang bahaya narkoba yang bisa menggerogoti moral kita dan sebagai
generasi muda maka kita harus menyadari bahwa kita sebagai tulang punggung
bangsa sekaligus bertanggung jawab atas kamaunan bangsa ini.
Dari makalah
diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa:
1.Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa
merusak susunan syaraf dan bisa merubah sebuah kepribadian seseorang menjadi
semakin buruk.
2.Narkoba adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang
dapat merusak norma dan ketentraman umum.
3.Menimbulkan dampak negatif yang mempengaruhi pada
tubuh baik secara fisik maupun psikologis.
B.Saran
Penulis sedikit memberikan saran, sebenarnya peredaran narkoba dapat
dicegah dengan pengawasan yang intensif baik
dari polisi ataupun masyarakat terutama bagi para orang tua harus bisa mendidik
anaknya supaya tidak terjerumus ke lembah hitam. Bisa dengan pendekatan agama
ataupun yang lainnya. Kalau tidak diawasi, akankah semua remaja di Indonesia
akan menjadi pecandu narkoba Kita berharap tidak demikian.
Semoga penyusunan singkat makalah “Penyuluhan Bahaya Narkoba Terhadap
Perkembangan Anak dan Remaja” ini, dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca
pada umumnya .
Makalah ini ditulis untuk melengkapi tugas mata kuliah Sistem Kardiovaskuler. Sesuai dengan petunjuk dalam silabus penulis membahas tentang “Endokarditis”.
Penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu dan mengarahkan dalam pembuatan makalah ini serta kepada rekan – rekan kelompok , yang telah mendukung dan membantu dalam penulisan makalah ini.
Mudah-mudahan dalam penyusunan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pihak – pihak yang berkepentingan, sehingga dapat mempermudah dan melancarkan proses pembelajaran.
Dalam proses pembuatan makalah ini penulis menyadari banyak terdapat kesalahan – kesalahan dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun dalammakalah ini. Terima kasih.
Purwodadi, 5 April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB IPENDAHULUAN ....................................................................... 01
A.Latar Belakang ......................................................................... 01
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 37
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler merupakan sistem yang memberi fasilitas proses pengangkutan berbagai substansi dari, dan ke sel-sel tubuh. Sistem ini terdiri dari organ penggerak yang disebut jantung, dan sistem saluran yang terdiri dari arteri yang mengalirkan darah dari jantung, dan vena yang mengalirkan darah menuju jantung.
Jantung manusia merupakan jantung berongga yang memiliki 2 atrium dan 2 ventrikel. Jantung merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh. Jantung manusia berbentuk seperti kerucut dan berukuran sebesar kepalan tangan, terletak di rongga dada sebalah kiri. Jantung dibungkus oleh suatu selaput yang disebut perikardium.
Jantung bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk mejamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik. Otot jantung berkontraksi terus menerus tanpa mengalami kelelahan. Kontraksi jantung manusia merupakan kontraksi miogenik, yaitu kontraksi yang diawali kekuatan rangsang dari oto jantung itu sendiri dan bukan dari syaraf.
Infeksi endokarditis biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.
Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokard dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik.
B.Tujuan Penulisan
1.Mahasiswa dapat mengetahui Konsep Dasar Penyakit “Endokarditis” yang meliputi definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, Komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, dan pencegahan penyakit “Endokarditis”.
2.Mahasiswa dapat mengetahui Konsep Dasar Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit “Endokarditis”.
3.Mahasiswa dapat memahami Jurnal terkait.
BAB II
KONDEP DASAR PENYAKIT
A.Definisi
Endokarditis adalah radang pada katup jantung dan endokardium yang disebabkan oleh kuman dan jamur (Murwani, A, 2009).
Endokarditis adalah suatu infeksi yang melibatkan endokardium yang utuh atau rusak atau katup jantung protesa (Edward K. Chung, 1995).
Endokarditis adalah infeksi yang serius dari salah satu dari empat klep-klep (katup-katup) jantung (Anonim, 2011).
Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditis biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.
B.Klasifikasi
Pengertian mengenai endokarditis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu endokarditis infektif dan endokarditis non infektif.
1.Endokarditis infektif
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada endokardium jantung atau pada pembuluh darah besar. Penyakit ini ditandai oleh adanya vegetasi. Berdasarkan gambaran klinisnya, endokarditis infektif dibedakan menjadi dua yaitu : 1) Endokarditis bakterial subakut, timbul dalam beberapa minggu atau bulan dan disebabkan oleh bakteri yang kurang ganas, seperti streptokokus viridans. 2) Endokarditis oakterial akut, timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu, dengan tanda-tanda klinik yang lebih berat. Sering disebabkan oleh bakteri yang ganas seperti stafilokokus aureus.
2.Endokarditis non infektif
Penyakit yang disebabkan oleh laktor trombosis yang disertai dengan vegetasi, Penyakit ini sering didapatkan pada penderita stadium akhir dari proses keganasan. Berdasarkan jenis katup jantung yang terkena infeksi, endokarditis dibedakan juga menjadi dua yaitu : 1) Native valve endocarditis, yaitu infeksi pada katup jantung alami. 2) Prosthetic Valve endocarditis, yaitu infeksi pada katup jantung buatan.
Gejala klinis endokarditis, sangat bervariasai dari yang ringan hingga yang terberat, yaitu Endokarditis Akut, dan Endokarditis Subakut,
1.Endokarditis Akut biasanya dimulai secara tiba-tiba dengan demam tinggi 38,9-40,9 Celsius, denyut jantung yang cepat, kelelahan dan kerusakan katup jantung yang cepat dan luas. Vegetasi endokardial (emboli) yang terlepas bisa berpindah dan menyebabkan infeksi tambahan di tempat lain Penimbunan nanah (abses) dapat terjadi di dasar katup jantung yang terinfeksi atau di tempat tersangkutnya emboli yang terinfeksi. Katup jantung bisa mengalami perforasi (perlubangan) dan dalam waktu beberapa hari bisa terjadi kebocoran besar. Beberapa penderita mengalami syok; ginjal dan organ lainnya berhenti berfungsi (sindroma sepsis). Infeksi arteri dapat memperlemah dinding pembuluh darah dan meyebabkan robeknya pembuluh darah. Robekan ini dapat berakibat fatal, terutama bila terjadi di otak atau dekat dengan jantung
2.Endokarditis Sub Akut bisa menimbulkan gejala beberapa bulan sebelum katup jantung rusak atau sebelum terbentuknya emboli. Gejalanya berupa kelelahan, demam ringan 37,2-39,2 Celsius, penurunan berat badan, berkeringat dan anemia. Diduga suatu endokarditis jika seseorang mengalami demam tanpa sumber infeksi yang jelas, jika ditemukan murmur jantung yang baru atau jika murmur yang lama telah mengalami perubahan. Limpa bisa membesar, Pada kulit timbul binti-bintik yang sangat kecil, juga di bagian putih mata atau dibawah kuku jari tangan. Bintik-bintik ini merupakan perdarahan yang sangat kecil yang disebabkan oleh emboli kecil yang lepas dari katup jantung. Emboli yang lebih besar dapat menyebabkan nyeri perut, penyumbatan mendadak pada arteri lengan atau tungkai, serangan jantung atau (stroke).
C.Etiologi
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran pernapasan bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90-95% endokarditis infeksi disebabkan oleh streptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50% penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah stertokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.
Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus.
1.Faktor Predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi. Endokarditis infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.
2.Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.
D.Patofisiologi
Terjadinya endokarditis karena menempelnya mikro organisme dari sirkulasidarah pada permukaan endokardial, kemudian mengadakan multiplikasi, terutamapada katup-katup yang telah cacat.
Penempelan bakteri-bakteri tersebutakanmembentuk koloni, dimana nutrisinya diambil dari darah.
Adanya koloni bakteritersebut memudahkan terjadinya thrombosis, kejadian tersebut dipermudah olehthromboplastin, yang ditimbulkan oleh lekosit yang bereaksi dengan fibrin.
Jaringanfibrin yang baru akan menyelimuti koloni-koloni bakteri dan menyebabkan vegetasibertambah.
Daerah endokardium yang sering terkena yaitu katup mitral, aorta.Vegetasi juga terjadi pada tempat-tempat yang mengalami jet lessions, sehinggaendothelnya menajdi kasar dan terjadi fibrosis, selain itu terjadi juga turbulensi yangakan mengenai endothelium.
Bentuk vegetasi dapat kecil sampai besar, berwarnaputih sampai coklat, koloni dari mikroorganisme tercampur dengan platelet fibrindimana disekelilingnya akan terjadi reaksi radang.
Bila keadaan berlanjut akanterjadi absces yang akan mengenai otot jantung yang berdekatan, dan secarahematogen akan menyebar ke seluruh otot jantung.
Bila absces mengenai sistimkonduksi akan menyebabkan arithmia dengan segala manifestasi kliniknya.
Jaringanyang rusak tersebut akan membentuk luka dan histiocyt akan terkumpul pada dasar3 vegetasi.
Sementara itu endothelium mulai menutupi permukaan dari sisi peripher,
proses ini akan berhasil bila mendapat terapi secara baik.
Makrophage akanmemakan bakteri, kemudian fibroblast akan terbentuk diikuti pembentukan jaringanikat kolagen.
Pada jaringan baru akan terbentuk jaringan parut atau kadang-kadang terjadi rupturdari chordae tendinen, oto papillaris, septum ventrikel. Sehingga pada katupmenimbulkan bentuk katup yang abnormal, dan berpengaruh terahdap fungsinya.
Permukaan maupun bentuk katup yang abnormal/cacad ini akan memudahkanterjadinya infeksi ulang. Vegetasi tersebut dapat terlepas dan menimbulkan embolidiberbagai organ.
Pasen dengan endokarditis biasanya mempunyai titer antibodi terhadapmikroorganisme penyebab, hal tersebut akan membentuk immune complexes, yangmenyebabkan gromerulonephritis, arthritis, dan berbagai macam manifestasikelainan mucocutaneus, juga vasculitis.
E.Pemeriksaan Diagnostik
Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul, misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.
1.Gejala umum
Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama sekali. Suhu 38-40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan pembesaran hati dan limpha.
2.Gejala Emboli dan Vaskuler
Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter hemorrhagic).
3.Gejala Jantung
Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endokarditis didahului oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis, penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung bawaan non valvular .
F.Komplikasi
Komplikasi Endokarditis :
Diantara berbagai manifestasi klinik dari endokarditis komplikasi neurologi merupakan hal yang penting karena sering terjadi, merupakan komplikasi neurologik. Dapat melalui 3 cara:
a.Penyumbatan dari pembuluh darah oleh emboli yang berasal dari vegetasi endokardial.
b.Infeksi meningen, jaringan otak, dinding pembuluh darah karena septik emboli atau bakterimia.
c.Reaksi immunologis.
Melalui mekanisme tersebut dapat menyebabkan:
a.infark atau infark berdarah.
b.pendarahan intra serebral, SAB, perdarahan subdural.
c.proses desak ruang, seperti abses atau mycotic aneurysma.
d.perubahan fungsi otak karena berbagai factor.
Bila terjadi emboli akan akan mengakibatkan :
a.Gejala neurologik fokal bila mengenal hanya satu pembuluh darah.
b.Lebih dari satu pembuluh darah tergantung dari istemianya apakah dapat membaik sebelum terjadi kerusakan yang permanen maka gejalanya mirip TIA, atau bila berlanjut menyebabkan kerusakan jaringan otak dan terjadi proses supurasi.
Hal tersebut mengakibatkan:
a.Septik atau septic meningitis.
b.Abses, mikro abses otak.
c.Meningoencephalitis.
Bila dinding arteri atau vasa vaserum terkena maka akan terjadi aneurisma, yang akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang bersangkutan. Berbagai factor yang dapat menimbulkan kelainan neurologis yaitu: Hipoksia, ganguan metabolisme, pengaruh obat- obatan, pengaruh toksis dari infeksi systemic, reaksi imunitas terhadap pembuluh darah, proliferatif endarteritis.
Komplikasi dapat terjadi disemua organ bila terjadi emboli infektif :
a.Gagal jantung
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung sedang sampai berat dan kematian terjadi 85% dari 95 kasus.
b.Emboli
Emboli terjadi pada 13-35% endokarditis infektif subakut dan 50-60% pada penderita endokarditis akut. Emboli arteri sering terjadi pada otak, paru, arteri koronaria, limpa, ginjal ekstrimitas, usus, mata dll.
c.Aneurisma nekrotik
Terjadi pada 3-5% endokarditis infektif dan akan mengalami perdarahan.
d.Gangguan neurologik
Ditemukan pada 40-50% endokarditis infektif. Gangguan bisa berupa, gangguan kesadaran, gangguan jiwa (psikotik) meningo ensepalitis seteril. Kelainan pada pembuluh darah otak 80% disebabkan infark dan 20% karena perdarahan otak.
G.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.Laboratorium
Leukosit dengan jenis netrofil, anemia normokrom normositer, LED meningkat, immunoglobulin serum meningkat, uji fiksasi anti gama globulin positf, total hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun, kadar bilirubin sedikit meningkat.
2.Pemeriksaan umum urine ditemukan maka proteinuria dan hematuria secara mikroskopik. Yang penting adalah biakan mikro organisme dari darah . Biakan harus diperhatikan, darah diambil setiap hari berturut-turut dua hingga lima hari diambil sebanyak 10 ml dibiakkan dalam waktu agak lama 1-3 minggu, untuk mencari mikroorganisme yang mungkin berkembang agak lambat. biakkan bakteri harus dalam media yang sesuai. NB: darah diambil sebelum diberi antibiotik . Biakan yang positif uji resistansi terhadap antibiotik.
3.Echocardiografi
Diperlukan untuk:
a.Melihat vegetasi pada katub aorta terutama vegetasi yang besar ( > 5 mm).
b.Melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel yang progresif
c.Mencari penyakit yang menjadi predisposisi endokarditis ( prolap mitral, fibrosis, dan calcifikasi katub mitral ).
d.Penutupan katub mitral yang lebih dini menunjukkan adanya destrruktif katub aorta dan merupakan indikasi untuk melakukan penggantian katub.
4.Pemeriksaan (EKG) menunjukkan adanya iskemia, hipertropi, blok konduksi, disritmia (elevasi ST), PR depresi.
5.Pemeriksaan Enzim jantung menunjukan, peningkatan CPK, tapi MB inzuenzim tidak ada.
6.Pemeriksaan Angiografi memperlihatkan stenosis katup dan regurgitasi atau menurunnya gerakan.
12.Pemeriksaan Titer ANApositif dengan penyakit autoimmun contoh : SLE (kemungkinan faktor pencetus).
13.Pemeriksaan BUN dapat mengevaluasi uremia (kemungkinan faktor pencetus).
14.Pemeriksaan Perikardiosentesis, cairan perikardial diperiksa untuk mengetahui penyebab infeksi, bakteri, TBC, virus atau infeksi jamur, SLE, penyakit rematik.
H.Penatalaksanaan
Prinsip dasar dalam pengobatan endokarditis adalah membasmi kuman penyebab secepat mungkin, tindakan operasi pada saat yang tepat bila diperlukan dan mengobati kompliikasi yang terjadi.
Saran pengobatan adalah eradikasi total organisme penyerang melalui dosis adekuat agen antimicrobial yang sesuai.
1.Isolisasikan organisme penyebab melalui seri kultur darah. Kultur darah dilakukan untuk membantu perjalanan terapi.
2.Setelah pemulihan dari proses infeksi, kerusakan katub serius mungkin membutuhkan pengganti katub.
3.Suhu tubuh pasien dipantau untuk keefektifan pengobatan.
3.Penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena dosis tinggi selama minimal 2 minggu. Pemberian antibiotik saja tidak cukup pada infeksi katub buatan. Mungkin perlu dilakukan pembedahan jantung untuk memperbaiki atau mengganti katub yang rusak dan membuang vegetasi. Sebagai tindakan pencegahan, kepada penderita kelainan katub jantung, setiap akan menjalani tindakan gigi maupun pembedahan sebaiknya diberikan antibiotik.
Tabel 1. Pengobtan Endokarditis Infektif yang disebabkan oleh kokus gram positif.
PENGOBATAN SECARA EMPIRIS
PENGOBATAN SECARA PEMBEDAHAN
Untuk ABE : Nafsilin 2 gram/4 jam + ampisilin 2 gram/4 jarn + gentamisin 1,5 mg/kgBB/8jam.
Untuk SBE : Ampisilin 2 gramla jam + gentamisin 1,5 mgikgBB/8 jam.
Tindakan pembedahan diperlukan pada keadaan :
- gagal jantung tidak dapat diatasi dengan obat-obatan.
- septikemia yang tidak respon dengan pengobatan antibiotika.
- emboli multipel.
- "relapsing endocarditis'.
- endokarditis pada katup buatan.
- perluasan infeksi rntrakardiak.
- endokarditis pada lesi iantung yang perlu tindakan koreksi bedah sepeti cacat jantung bawaan.
- endokarditis oleh karena jamur.
Tabel 2. Standar profilaksis terhadap endokarditis infektif.
A. Prolilaksis standar
1. Untuk pencabutan gigi alau
tindakan pada traktus respiratorius.
: Penisilin 2 gram (oral),
1 jam sebelum tindakan dan 1 gram, 6 jam sesudahnya.
B.Prolilaksis khusus
1. Parenteral,untuk penderita resiko tinggi tindakan gastrointestinal atau urogenital.
: Ampisilin 2 gram + Genlamisin 1,5 mg/KgBB 1/2 iam sebelum tindakan.
2. Unluk alergi penisilin
parenteral
: Vankon lsin 1 gram pelan-pelan i.v. +Genmisin 1,5 gram/kgBB 1 jam sebelum tindakan,
3. Oral (penderita alergi penisilin) untuk tindakan pada traktus respiratorius
: Eritromisin 1 gram 1 iam sebelum tindakan dan 0,5 gram 6 jam sesudah
tindakan.
4. Oral untuk tindakan minor
lraktus gastrointeslinal
atau urogenital
: Amoksisilin 3 gram 1 jam sebelum dan 1,5 gram 6 jam sesudah tindakan.
5. Parenleral untuk tindakan
operasi bedah jantung
: Sefazolin 2'gram i.v. pada waktu induksi anestesi, diulang 8 ,jam dan 16 jam kemudian.
: Vankomisin 1 gram pelan, 1 jam pada waktu induksi, anestesi kemudian 0,5 gram 8 jam dan 16 jam
sesudahnya.
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A.Pengkajian
1.Riwayat atau adanya factor resiko
a.Penyakit jantung bawaan.
b.Riwayat bedah jantung.
c.Pemakaian obat-obat intravena yang sembarangan.
d.Prosedur diagnose kardiovaskuler sebelumnya yang bersifat invasive
2.Pemeriksaan fisik berdasarkn pengkajian status kardiovaskuler (apendiks G) dan survei umum (apendiks F) kemungkinan menunjukkan :
a.Anoreksia dan kehilangan berat badan.
b.Lelah.
c.Splenomegali.
d.Lesivaskuler.
e.Ptekie.
f.Nodus oseler’s (nyeri, adanya nodul merah di kulit).
g.Lecy jeneways (datar, tidak ada nyeri, bintik- bintik merah yang di temukan di telapak kaki dan telapak tangan yang menjadi pucat karena tekanan).
3.Gejala gagal jantung
a.Pemeriksaan diagnostic
1)Kultur darah positif untuk infeksi organisme.
2)JDL menunjukkan leukositosis, dan hb, hematokrit dan sdm di bawah batas normal.
3)Laju sedimen eritrosit (ESR ) meningkat, yang menggambarkan adanya peradangan.
4)Sinar X dada mendeteksi gagal jantung kogestif dan hipertrofi jantung.
5)EKG untuk mengkaji gagal jantung dan aritmia.
6)Ekokardiogram untuk menentukan luasnya kerusakan katub.
4.Kaji perasaan pasien dan masalah-masalah tentang kondisi sesudah distres kardio pulmonal terkontrol.
B.Pathway
C.Rencana Asuhan Keperawatan
1.Pengkajian
Data Demografi/ identitas
a.Umur (usia > tua)
1)Murmur jantung
2)Aritmia
3)Tekanan darah mneingkat
4)Nadi perifer cenderung lemah
5)Intoleransi aktivitas
b.Suku bangsa
1)Pekerjaan
a)Pekerja berat
b)Stress tinggi
2)Lingkungan/ tempat tinggal
a)Mempengaruhi pola hidup dan konsumsi makanan
Pengkajian data dasar
a.Riwayat atau adnya factor- factor resiko:
1)Penyakit jantung bawaan
2)Riwayat bedah jantung
3)Pemakaian obat-obatan intravena yang sembarangan
4)Prosedue diagnosa kardiovaskuler sebelumnya yang bersifat invasif
b.Pemeriksaan fisisk berdasarkan pengkajian status kardiovaskuler dan survei umum kemungkinan menunjukkan :
1)Tiga kelompok besar anemia, demam intermitten dan murmur systole(dengan stenosis aorta infusiensi tricuspid atau infusiensi mitral) atau murmur diastolic (dengan isufiensi aorta stenosis tricuspid atau stenosis mitral)
2)Atralgia
3)Anoreksia dan kehilangan berat badan
4)Lelah
5)Spelenomegali
6)Lesi vaskuler
a)Nodus osler (nyeri, adanya nodul merah dikulit)
b)Lesi janeways (datar, tidak ada nyeri, bintik- bintik merah yang ditemukan ditelapak kaki dan ditelapak tangan yang menjadi pusat karena tekanan)
7)Ptekia
8)Gejala gagal jantung
c.Pemeriksaan diagnostik
1)Kultur darah positif untuk infeksi organisme
2)JDL menunjukkan leukositosis, Hb, hematokrit, dan SDM dibawah batas normal
3)Laju sedimen eritrosit(ESR) meningkat, menggambarkan adanya peradangan
4)Urinelasis AU menunjukkan hematuria dan proteunaria positif
5)Sinar X dada mendeteksi gagal jantung kongestif dan hipertropi jantung
6)EKG untuk mengkaji gagal jantung dan aritmia
7)Ekokardiogram untuk menentukan luasnya kerusakan katup
8)Enzim jantung: CPK mungkin tinggi, tetapi isoenzim MB tidak ada
9)Angiografi: dapat menunjukkan stenosis katup dan regurtasi/ penurunan gerak dinding
10)Sinar X dada: dapat menunjukan pembesaran jantung, infiltrsi pulmonal
11)JDL : dapat menunjukkan infeksi akut/ kronis anemia
12)Kultur darah: dilakukan untuk mengisolasi bakteri, virus, dan jamur penyebab
13)LED: umumnya meningkat
14)Titer ASO: peninggian pada demam reumatik(kemungkinan pencetus)
15)Titer ANA: positif pada penyakit antonium missal: SLE(kemungkinan pencetus)
16)Perikardiosintesis: cairan pericardial dapat diperiksa untuik etiologi, infeksi, seperti bakteri, tuberkolosis, infeksi virus, atau jamur, SLE, penyakit rheumatoid, keganasan
d.Kajian perasaan pasien dan masalah- masalah tentang kondisi sesudah distress cardiopulmonal
2.Diagnosa Keperawatan
a.Nyeri (akut) dapat dihubungkan dengan:
1)Inflamasi miokardium atau perikardium
2)Efek- efek sistemik dari infeksi
3)Iskemia jaringan(miokardium)
Kemungkinan di buktikan dengan:
1)Nyeri dada, penyebaran ke leher/ punggung
2)Nyeri sendi
3)Nyeri meningkat dengan inspirasi dalam, gerakan aktivitas, posisi
1)Keluhan kelemahan/ keletihan/ dispnea dengan aktivitas
2)Perubahan dalam tanda- tanda karena aktivitas
3)Tanda- tanda GJK
c.Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap factor resiko dapat meliputi :
1)Akumulasi cairan dalam kantung perikardia (perikarditis)
2)Stenosis/ insufisiensi katup
3)Penurunan atau konstriksi fungsi ventrikel
4)Degenerasi otot jantung
Kemungkinan dapat dibuktikan oleh:
1)Tidak dapat diterapkan adanya tanda- tanda dan gejala- gejala membuat diagnosa aktual
d.Perfusi jaringan, perubahan, resiko tinggi terhadap faktor resiko meliputi:
1)Emboli trombus/ vegetasi katup sekunder terhadap endokarditis
Kemungkinan dibuktikan oleh:
1)Tidak diterapkan adanya tanda- tanda dan gejala- gejala membuat diagnosa aktual
e.kurang pengetahuan tentang kondisi/ pengobatan dapat di hubungkan dengan :
1)Kurang informasi tentang proses penyakit, cara untuk mencegah pengulangan atau komplikasi
Kemungkinan di hubungkan dengan:
1)Permintaan informasi
2)Kegagalan membaik
3)Terulangnya/ komplikasi yang dapat dicegah
3.Intervensi
a.Diagnosa keperawatan: Nyeri (akut) dapat dihubungkan dengan :
1)Inflamasi miokardium atau pericardium
2)Efek- efek sistemik dari infeksi
3)Iskemia jaringan(miokardium)
INTERVENSI / TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri :
Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan factor pemberat atau penurun. Perhatikan penunjuk nonverbal dari ketidak nyamanan. Misalnya: berbaring dengan diam atau gelisah, tegang otot, menangis.
Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan. Misalnya: perubahan posisi, gosokan punggung, penggunaan kompres panas/ dingin, dukungan emosional, berikan aktivitas hiburan yang yang tepat
Nyeri perikarditis secara khas terletak subternal dan dapat menyebar keleher dan punggung. Namun ini berbeda dari iskemia miokard/ nyeri infrak, pada nyeri ini menjadi memburuk pada inspirasi dalam, gerakan, atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/ membungkuk. Catatan : nyeri dada dapat atau mungkin tidak menyertai endokarditis dan miokarditis, tergantung adanya iskemia.
Tindakan ini dapat menurunkan emosional pasien.
Mengarahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu.
Dapat menghilangkan nyeri, menurunkan respon inflamasi
Untuk menurunkan demam dan meningkatkan kenyamanan.
Dapat diberikan untuk gejala yang lebih berat Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk ambilan untuk menurunkan ketidaknyamanan berkenaan dengan iskemia.
b.Diagnosa keperawatan : intoleransi aktivitas dapat di hubungkan dengan :
Kaji respon pasien terhadap aktivitas. Perhatikan adanya dan perubahan dalam keluhan kelemahan, keletihan, dan dispnea berkenaan dengan aktivitas. Pantau frekuensi/ irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum/ setelah aktivitas dan selama diperlukan. Pertahankan tirah baring selama priode demam dan sesuai indikasi. Rencanakan perawatan dengan priode istirahat/ tidur tanpa gangguan. Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur, mencatat respon tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktivitas. Evaluasi respons emosional terhadap situas/ berikan dukungan.
Kolaborasi : Berikan oksigen suplemen.
Miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel- sel miokardial, sebagai akibat GJK. Penurunan pengisian dan curah jantung dapat menyebabkan pengumpulan cairan dalam kantung pericardial bila ada perikarditis. Akhirnya, endokarditis dapat terjadi dengan disfungsi katup, secara negative mempengaruhi curah jantung.
Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas. Meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut dari perikarditis/ endokarditis. Catatan: demam meningkatkan kebuuhan dan kebutuhan oksigen, karenanya meningkatkan kebutuhan dan konsumsi oksigen, karenanya meningkatkan beban kerja jantung dan menurunkan toleransi aktivitas.
Memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung meningkatkan proses penyembuhan dan kemampuan koping emosional. Saat inflamasi/ kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mampu melakukan aktifitas yang diinginkan, kecuali kerusakan miokard permanent/ terjadi komplikasi. Ansietas akan ada karena inflamasi/ infeksi dan respon jantung (fisiologis), serta derajat takut pasien serta kebutuhan ketrampilan koping emosional diakibatkan oleh potensial penyakit yang mengancam hidup (psikologis). Dorongan dan dukungan akan diperlukan untuk mengatasi frustrasi terhadap tinggal dirumah sakit yang lama. Peningkatan ketersediaan oksigen untuk ambilan miokard untuk mengimbangi peningkatan konsumsi oksigen yang terjadi dengan aktivitas.
c.Diagnosa keperawatan : curah jantung, penurunan, risiko tinggi terhadap factor resiko dapat meliputi :
1)Akumulasi cairan dalam kantung pericardia(perikarditis)
2)Stenosis/ insufisiensi katup
3)Penurunan/ kontriksi fungsi ventrikel
4)Degenerasi otot jantung
INTERVENSI/ TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri:
Pantau frekuensi/ irama jantung
Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/ muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4.
Dorong tirah baring dalam posisi semi fowler. Berikan tindakan kenyamanan, missal : gosokan punggung dan perubahan posisi, dan aktivitas hiburan dalam toleransi jantung. Dorong penggunaan teknik menejemen stres, missal: bimbingan imajinasi, latihan pernafasan. Selidiki nadi cepat, hipotensi, penyempitan tekanan nadi, peningkatan CVP/ DVJ, perubahan tonus jantung, penurunan tingkat kesadaran. Kolaborasi: Berikan oksigen suplemen. Berikan obat- obatan sesuai indikasi, missal: digitalis, diuretic. Antibiotic/ antimicrobial intravena Bantu dalam perikardiosentesis darurat.Siapkan pasien untuk pembedahan, bila diindikasikan.
Takikardia dan disritmia dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curahnya berespons pada demam, hipoksia, dan asidosis karena iskemia. Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi, missal: GJK, tamponade jantung. Menurunkan kerja jantung, mrmaksimalkan curah jantung
Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian. Perilaku yang bermanfaat untuk mengontrol ansietas, meningkatkan relaksasi, menurunkan beban kerja jantung. Manifestasi klinis dari tamponade jantung yang dapat terjadi pada perikarditis bila akumulasi cairan/ eksudat dalam kantung pericardia membatasi pengisian dan curah jantung. Manivestasi klinis dari GJK yang dapat menyertai endokarditis (infeksi / disfungsi katup) atau miokarditis (disfungsi otot miokard akut). Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk fungsi miokard dan untuk menurunkan efek metabulisme anaerob, yang terjadi sebagai akibat dari hipoksia dan asidosis. Dapat diberikan untuk meningkatkan kontraktilitas miokard dan menurunkan
kerja jantung pada adanya GJK (miokarditis). Diberikan untuk mengatasi pathogen yang teridentifikasi (endokarditi/ perikarditis, miokarditis), yang mencegah keterlibatan/ kerusakan jantung lebih lanjut. Prosedur dapat dilakukan ditempat tidur untuk menurunkan tekanan cairan disekitar jantung, yang dapat dengan cepat memperbaiki curah jantung (perikarditis). Penggantian katub mungkin perlu untuk memperbaiki curah jantung (endokarditis). Perikardektomi mungkin diperlukan karena akumulasi cairan pericardial berulang atau jaringan parut dan kontriksi fungsi jantung (perikarditis).
d.Diagnosa keperawatan : perfusi jaringan, perubahan, risiko tinggi terhadap factor meliputi :
1)Embolisasi thrombus / vegetasi katup sekunder terhadap endokarsitis.
INTERVENSI/ TONDAKAN
RASIONAL
Mandiri :
Observasi ekstrimitas terhadap pembekakan, eritmia.
Dapat membantu mencegah pembentukan atau migrasi emboli pada pasien dengan endokarsitis. Tirah baring lama (sering diperlukan untuk pasien dengan endokarditis dan miokarditis), namun, membawa risikonya sendiri tentang terjadinya fenomena tromboembolik.
Meningkatkan sirkulasi perifer dan aliran balik vena, karenanya menurunkan resiko pembentukan trombus. Penggunaannya controversial, tetapi dapat meningkatkan sirkulasi vena dan menurunkan risiko pembentukan thrombus vena supervisia l / dalam. Heparilamin dapat digunakan secara profilaksis bila pasien memerlukan tirah baring lama, mengalami sepsis atau GJK dan atau sebelum atau sesudah bedah penggantian katup. Catatan : Heparin kontraindikasi pada perikarditis dan tamponade jantung caumaden adalah obat pilihan untuk tera[pi setelah pengganti katup jangka panjang, atau adanya thrombus perifer.
e.Diagnosa keperawatan : kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), tentang kondisi / pengobatan dapat dihubungkan dengan :
1)Kurang informasi tentang proses penyakit, cara untuk mencegah pengeluaran pengulangan atau komplikasi.
INTERVENSI/ TINDAKAN
RASIONAL
Mandiri:
Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien. Ajarkan untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi/ berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada pemberi perawatan, contoh demam, peningkatan nyeri dada tak biasanya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Anjurkan pasien/ orang terdekat tentang dosis, tujuan dan efek samping obat, kebutuhan diet/ pertimbangan khusus aktivitas yang diizinkan/ dibatasi.
Kaji ulang perlunya antibiotik jangka panjang/ terapi antimicrobial.
Diskusikan penggunaan antibiotic profilaksis.
Identifikasi tindakan pencegahan endokarditis seperti:
Pembersihan mulut dan perawatan gigi yang baik.
Hindari orang yang mengalami proses infekasi(khususnya pernafasan).
Untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus, pengobatan, dan efek jangka panjang yang diharapkan dari kondisi inflamasi, sesuai dengan tanda/ gejala yang menunjukkan kekambuhan/ komplikasi.
Infirmasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapiutik, mencegah komplikasi. Perawatan dirumah sakit lama/ pemberian antibiotik IV/ antimikrobial perlu sampai kultur darah negative/ hasil darah lain menunjukkan tak ada infeksi. Pasien dengan riwayat demam reumatik berisiko tinggi untuk kambuh dan biasanya memerlukan profilaksis antibiotic jangka panjang. Pasien dengan masalah katup yang tidak mengalami riwayat demam reumatik memerlukan perlindungan antibiotic jangka pendek untuk prosedur yang menyebabkan pemindahan bakteri. tonsilektomi dan/atau adenoidektomi,
Pilih metode KB yang tepat(untuk pasien wanita)
Hindari penggunaan obat narkotik IV. Tingkatan praktek kesehatan seperti nutrisi yang baik, keseimbangan antara aktivitas/ istirahat, pantau status kesehatan sendiri dan melaporkan tanda infeksi. Berikan imunisasi, contoh vaksin influenza sesuai indikasi. Identifikasi dukungan individu/ sumber yang tersedia pasca pulang untuk memenuhi perawatan/ kebutuhan pemeliharaan di rumah. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan medis teratur, anjurkan pasien membuat perjanjian. Identifikasi factor resiko pencetus yang dapat dikontrol pasien, contoh: penggunaan obat IV(endokarditis) dan penganan masalah.
Prosedur bedah/biopsi mukosa pernapasan, bronkoskopi, insisi/ drainase jaringan terinfeksi dan prosedur GI/GU, melahirkan. Bakteri umumnya ditemukan dimulut dapat masuk dengan mudah kesirkulasi sitemik melalui gusi. Terjadinya infeksi, khususnya pernapasan streptokokal/pneumokokal atau influenz. Meningkatkan risiko keterlibatan jantung. Penggunaan IUD telah dihubungkan dengan peningkatan risiko proses inflamasi/ infeksi pelvis.
Menurunkan resiko masuknya pathogen langsung kesistem sirkulasi. Kekuatan system imun dan tahanan terhadap infeksi. Menurunkan risiko mengalami infeksi berat yang dapat menimbulkan infeksi jantung. Ketidaktoleransian terhadap aktivitas dapat mengganggu kemampuan pasien melakukan tugas yang dibutuhkan Pemahaman alasan untuk pengawasan medis dan rencana untuk/penerimaan tanggung jawab untuk evaluasi menurunkan risiko kambuh/ komplikasi. Pasien mungkin bermotivasi dengan adanya masalah jantung untuk mencari dukungan untuk menghentikan penyalahgunaan obat/ perilaku merusak.
4.Implementasi
Pelaksanaan pada pasien dengan penyakit endokarditis antara lain sebagai berikut:
a.melaksanakan intervensi sesuai dengan rencana yang telah dilakukan konsulidasi.
b.Ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat
c.Keamanan dan kenyamananfisik serta psikologisnya harus dilindungi
d.Dokumentasi dan interensi serta respon klien terhadap tindakan medis dan keperawatan yang telah dilakukan.
5.Evaluasi
a.Nyeri (akut)
Hasil yang diharapkan:
1)Mengidentifikasi metode yang memberi penghilangan
2)Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol
3)Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas pengalih sesuai indikasi untuk situasi.
b.Intoleransi aktivitas
Hasil yang diharapkan:
1)Melaporkan/ menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas
Bacterial endocarditis is an infection of the lining of the heart. This infection can occur in any person (infant, child, or adult) who has heart disease present at birth (congenital heart disease), or can occur in people without heart disease. Bacterial endocarditis does not occur very often, but when it does, it can cause serious heart damage. It is very important to prevent this infection from occurring, if possible.
How does the infection occur?
Bacterial endocarditis occurs when bacteria (germs) enter the bloodstream and lodge inside the heart, where they multiply and cause infection.
A normal heart has a smooth lining, making it difficult for bacteria to stick to it. However, persons with congenital heart disease may have a roughened area on the heart lining caused by pressure from an abnormal opening or a leaky valve. Even after surgery, roughened areas may remain due to scar tissue formation or patches used to redirect blood flow. These rough areas inside the heart are inviting, opportune places for bacteria to build up and multiply.
How does the bacteria get inside the body?
Bacteria can enter the body in many ways. According to the American Heart Association (AHA), some of the most common ways include the following:
dental procedures (including professional teeth cleaning)
tonsillectomy or adenoidectomy
examination of the respiratory passageways with an instrument known as a rigid bronchoscope
certain types of surgery on the respiratory passageways, the gastrointestinal tract, or the urinary tract
gallbladder or prostate surgery
Who is at risk for bacterial endocarditis?
Individuals with congenital heart disease (CHD) may be at increased risk of developing an infection inside the heart. There is greatest risk in those with chronic cyanotic heart conditions and/or pulmonary hypertension/Eisenmenger’s syndrome. Other congenital conditions that remain at risk are those with residual defects causing turbulent blood flow through heart chambers and/or areas of surgical repair with artificial materials such as patches or valve replacements.
Extensive review of research by the American Heart Association’s Endocarditis Committee and international experts developed new guidelines for prevention of bacterial endocarditis in 2007. The new guidelines have also been endorsed by the Infectious Diseases Society of America, the Pediatric Infectious Disease Society, and the American Dental Association.
Previously all people with CHD received antibiotics before dental and invasive procedures to prevent endocarditis. The new guidelines, however, require antibiotics prior to dental procedures only for cardiac conditions associated with the highest risk of complications from endocarditis. You will need to discuss your child’s congenital condition with his/her doctor to determine if your child needs antibiotic prevention.
Note that antibiotic prophylaxis may change if your child has more surgery or any new concern with his/her heart condition. Some of the simple patch or valve repairs only require antibiotics for the first six months after surgery until the artificial material undergoes endothelialization, a process in which natural tissue grows over the artificial material and makes it smooth.
Antibiotic prophylaxis is now recommended only for the following cardiac conditions:
·prosthetic (artificial) heart valves
·a previous history of endocarditis
·congenital heart disease only in the following categories:
ounrepaired cyanotic congenital heart conditions, including those with palliative shunts and conduits
ocongenital heart conditions completely repaired with prosthetic material or device, whether placed by surgery or catheter intervention, during the first six months after the procedure
orepaired congenital heart conditions with residual defects at the site or adjacent to the site of a prosthetic patch or device (which inhibit endothelialization)
·cardiac transplantation recipients with cardiac valvular disease
Consult your child's physician with any further questions you may have about risk factors.
How is bacterial endocarditis diagnosed?
In addition to a complete medical history and physical examination of your child, diagnostic procedures may include:
echocardiogram (echo) - a procedure that evaluates the structure and function of the heart by using sound waves recorded on an electronic sensor that produce a moving picture of the heart and heart valves.
complete blood count (CBC) - a measurement of size, number, and maturity of different blood cells in a specific volume of blood.
blood culture - a test that assesses for and determines the specific type of bacteria in the bloodstream, if any.
How is bacterial endocarditis prevented?
Helping your child maintain excellent oral hygiene is an important step in preventing bacterial endocarditis. Regular visits to the dentist for professional cleaning and check-ups are essential. Proper oral hygiene is crucial, including regular brushing and flossing.
According to the AHA guidelines, prior to procedures that put your child at risk, one dose of an antibiotic should be given. In most cases, the antibiotics can be given by mouth instead of through a shot or an intravenous (IV) line. Your child's dentist, pediatrician, or cardiologist can give prescriptions for the antibiotics to you.
Treatment for bacterial endocarditis:
Specific treatment for bacterial endocarditis will be determined by your child's physician based on:
your child's age, overall health, and medical history
extent of the infection
cause of the infection
your child's tolerance for specific medications, procedures, or therapies
expectations for the course of the infection
your opinion or preference
Bacterial endocarditis is serious. This infection can cause severe damage to the inner lining of the heart and to the valves. The infection can be treated in most cases with strong antibiotics given through an IV over the course of several weeks. However, heart damage may occur before the infection can be controlled. Consult your child's physician for more information.
B.Analisis Data
1.Pengertian Endokarditis
Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung.
2.Terjadinya Infekksi Endokarditis
Infeksi Wndokarditis terjadi ketika bakteri (kuman) memasuki aliran darah dan berkumpul dalam hati, di mana mereka berkembang biak dan menyebabkan infeksi.
3.Bakteri dapat memasuki tubuh dalam banyak cara. Menurut American Heart Association (AHA), beberapa cara yang paling umum adalah sebagai berikut :
c)Pemeriksaan dari rongga-rongga pernafasan dengan alat yang dikenal sebagai bronkoskop kaku.
d)Beberapa jenis operasi pada rongga-rongga pernafasan, saluran pencernaan, atau saluran kemih.
e)Kandung empedu atau operasi prostat.
4.Orang-orang yang Berisiko terinfeksi Endokarditis.
Individu dengan penyakit jantung bawaan (PJK) mungkin pada peningkatan risiko mengembangkan infeksi di dalam hati. Ada risiko terbesar pada mereka penderita jantung sianosis dan/atau hipertensi paru/Eisenmenger 's syndrome. Kondisi bawaan lain yang tetap berisiko adalah mereka dengan sisa cacat menyebabkan aliran darah turbulen melalui ruang jantung dan/atau bidang bedah perbaikan dengan bahan buatan seperti patch atau penggantian katup.
5.Diagnosis Endokarditis
Selain riwayat medis yang lengkap dan pemeriksaan fisik anak Anda, prosedur diagnostik meliputi :
a)Echocardiogram (echo) - suatu prosedur yang mengevaluasi struktur dan fungsi jantung dengan menggunakan gelombang suara direkam dengan sebuah sensor elektronik yang menghasilkan gambar bergerak dari katup jantung.
b)Hitung darah lengkap (CBC) - sebuah pengukuran dengan ukuran, jumlah, dan kematangan sel darah yang berbeda dalam volume tertentu dari darah.
c)kultur darah - tes yang menilai untuk dan menentukan jenis spesifik bakteri dalam aliran darah, jika ada.
6.Pencegahan.
Menjaga kebersihan mulut yang sangat baik merupakan langkah penting dalam mencegah bakteri endokarditis. Kunjungan rutin ke dokter gigi untuk membersihkan gigi dan cek-up sangat penting. Menjaga Kebersihan mulut dengan cara yang tepat adalah penting, termasuk menyikat biasa dan flossing.
Pengobatan untuk endokarditis :
Pengobatan khusus untuk bakteri endokarditis akan ditentukan oleh dokter anda, berdasarkan :
a)Usia , kesehatan secara keseluruhan, sejarah dan medis.
b)Tingkat infeksi.
c)Penyebab infeksi.
d)Toleransi anak Anda untuk obat tertentu, prosedur, atau terapi.
Endokarditis bakteri serius. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan parah pada lapisan jantung dalam dan katup. Infeksi dapat diobati dalam banyak kasus dengan antibiotik yang kuat, diberikan melalui intravena selama beberapa minggu. Namun, kerusakan jantung dapat terjadi sebelum infeksi dapat dikendalikan. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung.
2.Klasifikasi Endokarditis
a.Endokarditis Infektif.
b.Endokarditis Non Infektif.
3.Gejala Klinis.
a.Endokarditis Subakut.
b.Endokarditis Akut.
4.Komplikasi Endokarditis.
a.Gagal Jantung.
b.Emboli.
c.Aneurisma Mikotik.
5.Pemeriksaan Penunjang.
a.Laboratorium.
b.Echokardiografi.
c.Pemeriksaan EKG.
6.Asuhan Keperawatan.
a.Pengkajian.
b.Diagnosa Keperawatan.
c.Intervensi.
d.Implementasi.
e.Evaluasi.
B.Saran
Hendaknya mahasiswa dapat benar-benar memahami dan mewujud nyatakan peran perawat yang prefesional, dan selalu mengembangkan ilmu keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Joewono, Boedi Soesetyo. 2003. Ilmu Penyakit Jantung. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovasculer. Jakarta: Salemba Medika
Rilantono, Lily Ismuldiati . 1996. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Idonesia.
Smeltzer C suzanne, Bare Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal Bedah.. Jakarta : EGC